All posts by YKP

Kisah Maria Ulfa Tawarkan Ginjal demi Kembalikan Penglihatan

Kisah Maria Ulfa Tawarkan Ginjal demi Kembalikan Penglihatan

Maria Ulfa namanya. Ia masih mengenyam pendidikan di SMA Mahalona, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Saat masih kelas 3 SMP, ia kehilangan penglihatan mata kirinya karena tertusuk ranting. Lambat laun, penglihatan di mata kanannya juga tak berfungsi.

“Waktu SMP mata kiri saya tertusuk kayu kecil. Tidak lama pelan-pelan mata kanan sata juga sudah tidak bisa melihat,” ungkap Maria Ulfa, beberapa waktu lalu.

Satu-satunya jalan agar ia dapat melihat lagi adalah dengan cara operasi mata. Saking inginnya bisa melihat lagi, ia berniat menjual ginjalnya demi mendapat biaya untuk membayar operasi matanya.

Surat terbuka pun ia buat. Isinya, ia rela melepas ginjalnya demi uang untuk operasi mata.

“Saya sudah buat surat terbuka. Siapa saja mau beli ginjal saya mau jual, asal bisa operasi mata,” kata anak kedua dari lima bersaudara itu.
Maria tak terlahir di keluarga berada. Ayahnya, Damanhur, hanya bekerja serabutan. Kadang-kadang ia jadi tukang bersih-bersih di pasar. Itu pun jika ada pedagang pasar yang meminta lapaknya dibersihkan.

Pemerintah Kabupaten Luwu Timur yang mendapatkan kabar mengenai surat terbuka Maria Ulfa langsung merespons cepat. Wakil Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, lantas menjemput Maria Ulfa di kediamannya. Irwan membawa remaja itu ke Rumah Sakit Umum Daerah I Lagaligo, di Kecamatan Wotu, Luwu Timur, untuk memeriksakan matanya.

“Iya saya dengar dia (Maria Ulfa) mau jual ginjal untuk operasi mata, makanya kita langsung jemput untuk periksakan matanya,” kata Irwan.

Dari hasil pemeriksaan, dokter ahli mata menyatakan bahwa mata kanan Maria sama sekali sudah tak lagi bisa melihat karena mengalami pergeseran kornea mata, sementara mata kirinya hanya bisa melihat dalam jarak pendek.

“Kita senter bola mata kanannya, dia mengaku sama sekali tidak bisa melihat, ada pergeseran kornea. Sementara, mata kirinya masih bisa melihat, tapi hanya jarak dua jengkal,” terang dr Suhaedi.

Suhaedi menuturkan, penyakit mata yang diderita  Maria tergolong langka. Pelajar perempuan itu harus dirujuk ke RSUP Wahidin Sudirohusodo, Kota Makassar, untuk menjalani operasi mata karena peralatan di RS I Lagaligo tak cukup memadai.

“Ini masuk kategori penyakit langka. Ini harus ada tindakan medis yang tepat, sementara peralatan kita sangat standar. Oleh karena itu, pasien harus dirujuk ke Makassar,” ucap Suhaedi.

Mengetahui anaknya akan segera menjalani operasi, Damanhur, ayah Maria, merasa sangat bahagia. Ia berterima kasih atas perhatian yang diberikan oleh pemerintah terhadap anaknya.

“Terima kasih atas bantuannya. Saya sangat bersyukur dan berharap putri saya bisa melihat kembali dengan normal,” ucapnya.

 

Sumber: http://regional.liputan6.com/read/3102920/kisah-pelajar-tawarkan-ginjal-demi-kembalikan-penglihatan

Read More

Idap Penyakit Langka, Mata Jailian Menonjol

Gambaran memilukan ini mengungkap nasib seorang anak laki-laki berusia dua tahun dengan mata menonjol yang perlahan kehilangan penglihatan matanya karena orang tuanya terlalu miskin untuk menjalani perawatan medis.

Dia adalah Jailian Kaipeng berada dalam rasa sakit yang konstan dan mungkin menderita kelainan langka yang membakar matanya atau bahkan sejenis kanker mata anak-anak.

Jailian lahir sebagai bayi yang sehat tapi matanya mulai membengkak saat usianya baru dua bulan. Kondisinya sekarang mendorong matanya ke depan sehingga tutup matanya bahkan tidak bisa ditutup.

“Semua dokter mengatakan bahwa kita harus membawanya ke rumah sakit besar namun itu berada di luar kemampuan kita. Orang-orang menatapnya dan terkejut dengan kondisinya yang menghancurkan hatiku dan saat ini yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu keajaiban terjadi. Kami sangat membutuhkan pertolongan,” kata Ibunya Chengmaite (25) dari sebuah desa terpencil di Tripura, India timur laut, seperti dilansir dari laman Daily Mail, Senin (25/9/2017).

Ayah Jailian, Neirbanglal Kaipeng (28) mengatakan bahwa mata kanan anaknya mulai membengkak beberapa bulan setelah kelahirannya.

“Garis merah akan muncul dan hilang di bola matanya dan itu akan menyebabkan matanya membengkak. Kami sangat terkejut saat pertama kali melihatnya, kami sama sekali tidak tahu harus berbuat apa,” tukas Ayahnya.

Keluarga tersebut berkonsultasi dengan dokter setempat namun tidak ada yang bisa mendiagnosis kondisinya. “Kami membawanya ke dokter setempat kami. Tapi mereka bingung. Mereka memberinya beberapa obat-obatan dan mengirim kami pulang tapi matanya semakin memburuk,” sambung Ayahnya.

Akhirnya kondisinya menyebar ke mata kirinya dan pembengkakan menjadi permanen.

Selama dua tahun terakhir, orang tuanya telah menyaksikan dengan tak berdaya karena kondisi bayi mereka memburuk. Diduga Jailian mungkin memiliki orbital pseudotumour, yaitu radang otot mata atau bahkan lebih parah lagi dia memiliki jenis kanker mata yang disebut retinoblastoma. Tetapi tanpa konsultasi dengan para ahli dan tes, tidak ada yang bisa memastikannya.

Dengan putus asa Neirbanglal menjual sebagian tanahnya seharga Rs 30.000 (£ 340) dan sapi keluarga seharga Rs 10.000 (£ 110) untuk membayar biaya konsultasi lebih lanjut, biaya perjalanan dan obat-obatan.

Tapi kondisi Jailian terus memburuk dan keluarga belum mampu memberikan perawatan terbaik – dan kini telah kehilangan rumah mereka.

“Kami terkejut dan tak berdaya dengan visibilitas kondisinya. Saya tidak tahu ke mana harus membawa anak saya, “kata Neirbanglal.

 

Sumber : NetralNews

Read More

Tube Shunt Atasi Glaukoma

Harapan Edo Sebastian terlepas dari gangguan glaukoma terbuka lebar. Kemarin (22/9) pria 32 tahun tersebut menjalani operasi tube shunt untuk glaukoma. Itu adalah operasi kedua yang harus dilalui Edo.

Operasi tube shunt merupakan pilihan yang harus dijalani pasien saat ada komplikasi pascaoperasi konvensional yang disebut trabeculec

tomy atau tanpa tube shunt. Komplikasi yang dimaksud, antara lain, tekanan bola mata masih tinggi. Normalnya, tekanan bola mata maksimal 20 mmHg. Kalau lebih dari itu, termasuk glaukoma. ”Seperti yang dialami oleh pasien Edo ini. Tekanannya sampai 43 mmHg,” ungkap dr Lydia Nuradianti SpM.

Kasus tersebut sebenarnya jarang terjadi. Pasien berpeluang 1: 100 untuk mengalami komplikasi pascabedah konvensional. ”Munculnya komplikasi itu bukan operasinya yang gagal. Tapi, muncul dari tubuh pasien,” ungkap Ketua Divisi Glaukoma Rumah Sakit Mata Undaan tersebut. Jadi, tidak semua pasien mengalaminya. Edo, lanjut Lydia, pernah menjalani

trabeculectomy tahun lalu. Glaukoma menyerang dua matanya. Pria asal Surabaya itu awalnya merasa penglihatannya baik-baik saja. Dia pun beraktivitas normal seperti biasanya pascaoperasi.

Komplikasi diketahui pasien saat kontrol ke rumah sakit beberapa waktu lalu. Ternyata, saat itu, tekanan bola matanya masih tinggi. Itu hanya terjadi pada mata kanan. ”Mata kirinya baik-baik saja,” ujar alumnus Fakultas Kedokteran (FK) Unair tersebut.

Penanganan pertama dilakukan dengan cara needling mata kanan. Namun, tekanan bola matanya tak kunjung turun. Karena itulah, Edo membutuhkan operasi pemasangan tube shunt. Tindakan tersebut, menurut dia, terbilang sangat jarang dilakukan. Kalaupun butuh tindakan tersebut, pasien sering menjalaninya di luar negeri. Singapura misalnya. ” Tapi, sekarang sudah bisa di sini,” tegas Lydia.

Operasi kemarin berjalan singkat, sekitar 1,5 jam. Pasien masuk ruang operasi pukul 11.30 dengan pembiusan total. Lydia bersama tim berhasil menuntaskan operasi sekitar pukul 13.00.

Tube berukuran 9 mm itu dimasukkan ke mata Edo. Ukuran tersebut disesuaikan dengan kebutuhan mata pasien. Tube terbuat dari silikon atau polypropylene yang aman untuk tubuh. Pemasangan tube bertujuan untuk mengembalikan tekanan bola mata ke angka normal. ”Dilakukan pada jaringan yang berbeda dengan operasi sebelumnya,” jelasnya.

Sementara itu, dr Soemartono Samadikoen SpM(K) menambahkan, glaukoma menjadi salah satu gangguan mata yang sering memicu kebutaan. Gejalanya tidak disadari. Pasien pun sering mengabaikan. Pasien baru merasa ada kelainan ketika glaukoma sudah parah. Penglihatan jadi seperti teropong.

Glaukoma merupakan gangguan penglihatan akibat tekanan berlebihan pada mata. Kondisi itu dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan saraf mata hingga menimbulkan kebutaan. ”Jadi, sangat penting pencegahan agar tidak sampai parah,” ujar Soemartono.

Sebenarnya, glaukoma dapat disembuhkan dengan minum obat-obatan. Operasi dilakukan apabila langkah sebelumnya tidak memberikan hasil memuaskan.

Sumber: JawaPos Sabtu 23 September 2017

Read More
Claire Berjuang 10 Tahun Melawan Parasit di Mata karena Softlens

Claire Berjuang 10 Tahun Melawan Parasit di Mata karena Softlens

Claire Wilkinson (38) dari Brisbane, Australia, sedang berusaha mengumpulkan dana mencari pengobatan medis di Inggris. Mata kirinya terlihat membengkak dan tubuhnya mengalami kelumpuhan. Hal tersebut terjadi karena infeksi parasit yang sudah 10 tahun menggerogoti matanya.

Dalam halaman situs gofundme Claire bercerita bahwa semua bermula ketika tahun 2008 lalu ia bangun, mengenakan softlens, dan berangkat kerja seperti biasa. Namun saat itu ada yang aneh karena setengah jam kemudian Claire mengalami sensitivitas terhadap cahaya dan rasa nyeri.

Claire pun pergi ke rumah sakit mata setelah empat hari kesulitan tidur dan terus merasa nyeri.

“Tiba-tiba saja semua jadi menyeramkan. Lapisan kornea mata saya harus diambil dan diberitahu mungkin juga mata saya harus diangkat setelah seminggu kemudian hasil diagnosa mengkonfirmasi saya terkena Acanthamoeba Keratitis atau AK,” kata Claire seperti dikutip pada Jumat (22/9/2018).

AK adalah penyakit langka yang disebabkan oleh organisme mikro acanthamoeba yang sebetulnya umum terdapat di air. Claire mengaku kemungkinan ia menggunakan cairan permbersih softlens yang tak bagus sehingga parasit bisa menempel dan kemudian menginfeksi mata.

Claire pun diberikan obat tetes mata kuat yang digunakan selama seminggu untuk melawan parasit tersebut. Setiap tetesan semakin mengikis lapisan matanya yang juga sedang dirusak dimakan oleh parasit.

Setelah tampak sembuh, 10 bulan kemudian parasit kembali. Claire gagal menjalani transplantasi kornea dan juga operasi otak untuk memutuskan saraf pengirim rasa sakit karena parasit terus memakan mata.

Sialnya Claire malah terkena stroke disaat menjalani salah satu prosedur operasi yang membuatnya lumpuh.

“Memang ada satu dari seratus ribu kemungkinan hal ini terjadi dan bukan salah rumah sakitnya. Saya hanya sedang tidak beruntung,” kata Claire.

Kini setelah 10 tahun berjuang melawan penyakit, Claire mencoba untuk mendapatkan perawatan medis di Inggris. Ia pun melakukan penggalangan dana online dengan target sekitar Rp 226 juta.

 

Sumber: Detik Health

Read More
ada apa dengan bola mata kita sebenarnya

Ada Apa dengan Bola Mata Kita?

  1. Sklera: Sklera adalah bagian putih mata yang mengelilingi kornea. Hal ini terdiri dari jaringan berserat, dan memberikan perlindungan kepada bagian dalam mata. Ini adalah jaringan yang biasa disebut putih mata.
  2. Kornea: Kornea adalah jaringan transparan di depan mata di mana cahaya yang datang dari sebuah benda masuk ke mata. Hal ini juga membantu dalam memfokuskan cahaya pada retina.
  3. Beranda Depan (Aqueous Humor): ini adalah cairan transparan bening yang mengisi ruang ruang antara kornea dan lensa mata. Ini juga memasok nutrisi dan oksigen ke bagian-bagian ini.
  4. Iris: Iris adalah cincin otot di bagian tengah mata, yang membantu dalam mengatur jumlah  cahaya yang memasuki mata dengan mengontrol ukuran pupil.
  5. Pupil: Ini adalah sebuah lubang di tengah iris dimana cahaya melewati dan jatuh pada lensa mata. Ukurannya dikontrol oleh iris.
  6. Lensa Mata: Lensa mata ini terletak tepat di belakang pupil. Ini membantu dalam memfokuskan cahaya pada retina. Lensa mata mampu mengubah bentuknya sehingga memungkinkan kita untuk melihat obyek dekat dan jauh.
  7. Otot siliari: ini adalah jaringan berbentuk cincin yang memegang dan mengontrol pergerakan lensa mata, dan karena itu, membantu dalam mengendalikan bentuk lensa.
  8. Humor vitreous: bertindak sebagai pengisi dan mencakup ruang antara lensa mata dan retina. Hal ini juga memberikan perlindungan kepada lensa. Itu membuat untuk sekitar dua-pertiga dari total volume mata, dan terutama terdiri dari air
  9. Retina: ini adalah membran bertanggung jawab untuk mengubah cahayayang jatuh di atasnya menjadi impuls listrik yang dapat dikirim ke otak. Retina mengandung sel fotoreseptor yang sensitif terhadap cahaya yang disebut batang dan kerucut. Batang membantu dalam visi hitam dan putih dan untuk melihat dalam cahaya redup, sedangkan kerucut membantu dalam penglihatan siang hari dan warna.
  10. Saraf optik: ini adalah bundel serat saraf yang berfungsi sebagai kabel yang menghubungkan mata ke otak. Saraf optik ini membantu dalam transmisi sinyal dari retina ke pusat visual otak.
  11. Spot kuning atau Makular: terletak di pusat retina, tempat ini kuning membantu dalam menyerap kelebihan cahaya yang memasuki mata. Makula adalah bertanggung jawab untuk penglihatan [embacaan kita, dan membantu kita untuk melihat obyek yang tepat di depan kita.
  12. Kelopak mata: Kelopak mata membantu dalam perlindungan dan pelumasan mata kita. Mereka juga membantu dalam mengendalikan jumlah cahaya yang jatuh ke mata kita.
  13. Otot Mata: Bola mata diadakan di tempatnya dengan bantuan beberapa otot mata. Otot-otot mata bertanggung jawab atas dan bawah, serta gerakan kiri dan kanan mata

 

Sumber: http://www.klinikmatautama.com/rahasia-di-balik-bola-mata-kita.html

Read More
Pemrov Gorontalo Gratiskan Operasi Katarak Bagi 1.140 Warga

Pemrov Gorontalo Gratiskan Operasi Katarak Bagi 1.140 Warga

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Gorontalo melalui Rumah Sakit (RS) Hasri Ainun Habibie kembali menggelar operasi katarak gratis. Terakhir dilaksanakan pada 16 September, sebanyak 40 orang pasien berhasil menjalani operasi gratis.

 

“Sebelumnya sejak tahun 2012 sudah 1.100 pasien dioperasi, dan kini terbaru sebanyak 40 pasien berhasil menjalani operasi katarak, tanpa sepeserpun dikenakan biaya,” kata Gubernur Gorontalo Rusli Habibie dalam keterangannya kepada redaksi, Senin (18/9).

Rusli menjelaskan sejak tahun 2012 kesehatan gratis menjadi satu dari empat program unggulan Pemprov Gorontaloo. Kini pada periode kedua, kembali ditingkatkan menjadi program unggulan kesehatan gratis lebih prima. Salah satu bukti program ini adalah pelaksanaan operasi katarak gratis yang sudah berjalan sejak tahun 2012.

“Alhamdulillah kegiatan pengobatan gratis dan operasi katarak gratis sudah banyak membantu masyarakat. Ini adalah bukti nyata kami terhadap masyarakat, untuk bisa berobat secara cuma-cuma,” kata Rusli Habibie.

Sementara itu, Direktur RS Ainun Habibie, dr. Rosina Kiu mengatakan, RS Ainun Habibie sudah memiliki fasilitas dan peralatan lengkap untuk melakukan operasi katarak. Sebab sebelum menjadi rumah sakit, berfungsi sebagai klinik mata Ainun Habibie yang kemudian diubah menjadi rumah sakit. Kemudian saat ini diupayakan menjadi rumah sakit rujukan Tipe B di Provinsi Gorontalo.

Selain itu, mulai tahun 2018 nanti, RS Ainun Habibie sudah mempersiapkan program operasi katarak gratis sebanyak 12 kali setiap bulannya selama setahun. Serta membuka layanan screening mata setiap hari, dari Senin sampai Sabtu. Hal ini menurutnya sangat menolong masyarakat Gorontalo penderita katarak.

“Semua ini adalah upaya mendukung program kerja gubernur yang menjadikan program kesehatan gratis sebagai program unggulan sejak tahun 2012,” tuturnya.

Sepeti diketahui, RS Ainun Habibie yang dibangun di atas lahan seluas 6,4 hektar, nantinya menjadi rumah sakit rujukan yang mempunya ruang rawat inap dengan 413 tempat tidur. Sebanyak 60 persen dari jumlat tempat tidur akan diperuntukkan untuk ruang rawat inap kelas III. Juga disertai dengan layanan fasilitas dan peralatan yang modern, serta tenaga kesehatan yang profesional.

 

Sumber: rmoljakartacom

Read More

Membedah Dugaan Penyebab Katarak Pada Buah Hati Asri Welas

Artis dan presenter Asri Welas tetap tegar mendampingi buah hatinya Rayyan Gibran Ridharaharja atau biasa dipanggil Ibran. Ibran mengalami katarak sejak usianya 5 bulan. Kini Ibran sudah melewati masa operasi. Sang ibunda masih menunggu hasil pasti dari pemeriksaan di Malaysia.

 

Namun Asri memastikan buah hatinya tidak terinfeksi rubella, tokso, dan lainnya. Lalu sebetulnya apa yang menyebabkan bayi bisa terkena katarak?

Ahli Imunologi dan Pakar Pediatri dari Malaysia, Adli bin Ali, MD, Msc, Dr.Paeds, PhD Cand(Oxon) menjelaskan jika memang katarak muncul saat bayi, bisa jadi disebut dengan katarak kongenital. Katarak itu merupakan suatu kekeruhan pada lensa mata yang sudah ada sejak lahir atau segera setelah lahir, tanpa adanya rasa nyeri.

 

“Waktu lahir sudah ada belum, kalau sejak bayi bisa jadi namanya kongenital katarak,” ungkap Adli kepada JawaPos.com di Jakarta, Sabtu (16/9).

Penyebabnya bisa bermacam-macam. Dari mulai infeksi saat kandungan, virus rubella, hingga penyakit metabolik. Adli menjelaskan katarak membuat mata bayi terlihat ada selaput atau titik putih pada lensa.

“Jika sudah operasi, dan kataraknya sudah dirawat maka tentu anak bisa kembali melihat, asalkan jika memang benar hanya masalah pada mata atau katarak. Bukan ada penyebab lain,” tuturnya.

Dia menegaskan pada bayi dengan katarak, pemeriksaan harus dilakukan dengan mengecek riwayat keluarga lainnya hingga sang ibu. Sebelumnya harus diketahui apa penyebabnya, apakah gangguan metabolik atau masalah lain. Jika hanya masalah mata, kata dia, hal itu tak akan berbahaya, tidak mengganggu. Bisa dilakukan dengan berbagai fisioterapi mata.

“Nanti ketika anak sudah sekolah, terangkan pada guru bahwa ada gangguan penglihatan. Berikan stimulasi warna supaya bisa tetap bergaul dengan teman-teman sebayanya tanpa rasa rendah diri,” katanya.

Adli menegaskan tentunya para orang tua tak mau hanya karena masalah mata, perkembangan otak anak yang bagus menghambat perkembangannya. Di mana masa anak-anak adalah tahap melihat, menyentuh dan bereksplorasi.

“Jika katarak terjadi hanya masalah pada penglihatan, dengan terapi bisa. sembuh. Tapi jika masalahnya gangguan metabolik, bisa mengganggu pada saraf, otak dan lainnya. Karena itu tes harus dilakukan detail keseluruhan,” katanya.

Dugaan penyebabnya, kata Adli, bisa jadi karena infeksi virus rubella atau sindrom tertentu. Jika perempuan terinfeksi penyakit ini saat sedang hamil, risiko keguguran dapat meningkat (campak juga meningkatkan kemungkinan persalinan prematur).

Infeksi Rubella dapat menyebabkan cacat pada otak, jantung, mata seperti katarak, dan telinga pada bayi dan meningkatkan risiko keguguran dan stillbirth (bayi lahir mati).

Virus rubella atau campak Jerman ditandai dengan gejala seperti flu dan sering diikuti dengan ruam. Rubella juga dapat berbahaya pada kehamilan. Hingga 85 persen bayi dari ibu yang memiliki rubella pada trimester pertama mengalami cacat lahir yang serius, seperti kehilangan pendengaran, penglihatan, dan kecacatan intelektual.

 

 

Sumber: JawaPos 17 September 2017

Read More
sejarah palang merah indonesia

Sejarah Palang Merah Indonesia

Berdirinya Palang Merah di Indonesia sebetulnya sudah dimulai sebelum Perang Dunia II, tepatnya 12 Oktober 1873.Pemerintah Kolonial Belanda mendirikan Palang Merah di Indonesia dengan nama Nederlandsche Roode Kruis Afdeeling Indië (NERKAI) yang kemudian dibubarkan pada saat pendudukan Jepang.[2]

Perjuangan mendirikan Palang Merah Indonesia (PMI) diawali 1932. Kegiatan tersebut dipelopori Dr. R. C. L. Senduk dan Dr. Bahder Djohan dengan membuat rancangan pembentukan PMI. Rancangan tersebut mendapat dukungan luas terutama dari kalangan terpelajar Indonesia, dan diajukan ke dalam Sidang Konferensi Narkai pada 1940, akan tetapi ditolak mentah-mentah.

Rancangan tersebut disimpan menunggu saat yang tepat. Seperti tak kenal menyerah pada saat pendudukan Jepang mereka kembali mencoba untuk membentuk Badan Palang Merah Nasional, namun sekali lagi upaya itu mendapat halangan dari Pemerintah Tentara Jepang sehingga untuk yang kedua kalinya rancangan tersebut kembali disimpan.

Proses pembentukan PMI dimulai 3 September 1945 saat itu Presiden Soekarno memerintahkan Dr. Boentaran (Menkes RI Kabinet I) agar membentuk suatu badan Palang Merah Nasional.

Dibantu panitia lima orang yang terdiri dari Dr. R. Mochtar sebagai Ketua, Dr. Bahder Djohan sebagai Penulis dan tiga anggota panitia yaitu Dr. R. M. Djoehana Wiradikarta, Dr. Marzuki, Dr. Sitanala, Dr Boentaran mempersiapkan terbentuknya Palang Merah Indonesia. Tepat sebulan setelah kemerdekaan RI, 17 September 1945, PMI terbentuk. Peristiwa bersejarah tersebut hingga saat ini dikenal sebagai Hari PMI.

Peran PMI adalah membantu pemerintah di bidang sosial kemanusiaan, terutama tugas kepalangmerahan sebagaimana dipersyaratkan dalam ketentuan Konvensi-Konvensi Jenewa 1949 yang telah diratifikasi oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1958 melalui UU No 59.

Sebagai perhimpunan nasional yang sah, PMI berdiri berdasarkan Keputusan Presiden No 25 tahun 1950 dan dikukuhkan kegiatannya sebagai satu-satunya organisasi perhimpunan nasional yang menjalankan tugas kepalangmerahan melalui Keputusan Presiden No 246 tahun 1963.

#yayasankatarakpeduli
#HariPMI
#YKP
#PMI

 

 

Sumber: Wikipedia

Read More
gibran putra asri welas

Gibran, Putra Asri Welas Derita Katarak Sejak Kecil

Putra Asri Welas, Rayyan Gibran Ridharaharja atau Ibran, yang baru saja menjalani operasi katarak akan mendapatkan perawatan khusus selain menggunakan kacamata plus 16.

“Ibran penglihatannya seperti nol bulan, artinya dia baru menerima cahaya kemudian pakai kacamata. Jadi kami ada treatment khusus. Ada banyak treatment yang harus kami kejar di lima bulan ini,” kata Asri ketika berbincang dengan wartawan di RSIA Bunda, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (15/9/2017), seperti dikutip dari KompasCom

“Nanti ada rehabilitasi medik juga sama dokter Luh untuk perkembangan motoriknya. Jadi nanti saya akan belajar dari dokter Luh. Di Indonesia ini ahli rehabilitasi medik masih sedikit, baru tujuh dokter. Jadi kayak gimana kita gendong bayi itu sangat penting untuk perkembangan otak. Jadi bayi di usia tiga bulan, lima bulan, jangan diperlakukan seperti bayi berusia satu bulan,” ujar pemilik nama asli Asri Pramawati ini.

“Saya banyak belajar juga. Nanti akan saya share di Instagram karena Ibran ini kan bukan delay ya, karena seharusnya bayi seusia segitu sudah bisa melihat sesuatu,” lanjutnya.

Di sisi lain, pemain film Cek Toko Sebelah ini menambahkan bahwa Ibran kini masih menggunakan obat tetes pada matanya.

“Obat tetes aja yang harus dipake tiga kali sehari. (Untuk pantangan) Enggak sejauh ini belum, karena kami lagi cek metabolik,” ujarnya.

“Dalam sebulan dia melakukan operasi dua kali, itu yang bikin dia ngedroop. Darah merah lebih rendah dari darah putih,” lanjutnya. Asri pun masih menunggu hasil penelitian dari Malaysia dan ia mengaku belum tahu kapan bisa mendapatkan hasil tersebut. Seperti Kabar sebelumnya bahwa Ibran sudah menjalani dua kali operasi dalam satu bulan pada kedua matanya yang menderita penyakit katarak.

 

Namun akhirnya Ibran bisa melihat kembali dengan bantuan kacamata. “Alhamdulillah, anakku akhirnya bisa melihat. Tapi pakai kacamata plus 16, tebel banget,” pungkas Asri.

Sumber: KompasCom

Read More
Skrining Katarak Faktor Terbesar Karena Usia

Skrining Katarak, Faktor Terbesar Karena Usia

Katarak berpeluang besar bisa disembuhkan. Namun, mayoritas warga enggan memeriksakan diri ke dokter. Kalau dibiarkan, katarak bisa mengakibatkan kebutaan. Dalam kondisi tersebut, lensa mata menjadi keruh sehingga semakin sedikit cahaya yang melewatinya.

Karena itu, masyarakat diharapkan lebih peduli terhadap kesehatan mata. Kemarin (12/9) ada 46 orang yang mengikuti skrining tahap awal untuk mendeteksi katarak di klinik mata Java Cataract and Refractive Center. Program tersebut merupakan kerja sama dengan Paguyuban Harapan Sentosa.

Salah seorang yang mengikuti skrining tersebut adalah Kasiati. Perempuan 68 tahun tersebut mengalami gangguan mata sejak dua tahun terakhir. Penglihatannya buram meski sudah menggunakan kacamata. ’’ Jadi nggak nyaman untuk melihat,’’ ujar perempuan asal Surabaya itu. ’’Kalau masak, ya tidak jelas,’’ tambahnya. Ketidaknyamanan tersebut memacunya untuk melakukan skrining. Hasilnya positif. Ada gangguan katarak pada mata kirinya.

Selain Kasiati, ada Martini, 62, yang mengikuti deteksi katarak. Martini merasa penglihatan dua matanya kabur sejak beberapa bulan terakhir. Meski tidak terlalu parah, kondisi itu tetap mengganggu aktivitas. Terkadang, dia harus berhenti sejenak untuk memastikan penglihatannya benar atau tidak. ’’Jadi, lebih baik ikut pemeriksaan ini saja dulu,’’ paparnya.

Sementara itu, dr Dicky Hermawan SpM menjelaskan bahwa katarak memang sering menyerang pasien lanjut usia (lansia), yakni sekitar 45 tahun ke atas. Ada banyak faktor penyebab katarak. ’’Faktor besar tetap pada usia. Tapi, ada faktor penyebab lainnya,’’ ungkapnya.

Faktor lain yang dimaksud, antara lain, intensitas mata terkena sinar matahari yang terlalu banyak, memiliki penyakit sistemik (contohnya, kencing manis), efek samping obat steroid, dan memiliki trauma. ’’Kalau katarak pada anak-anak sering disebabkan infeksi sejak dalam kandungan,’’ jelas spesialis mata RSUD dr Soetomo tersebut.

Katarak ditandai dengan gangguan penglihatan. Pandangan menjadi kabur atau tidak jelas. Tidak ada gejala lain. Pasien juga tidak merasakan sakit sama sekali. Mata pun tidak merah. ’’Jadi, banyak yang mengabaikan,’’ jelas Dicky.

Sumber: JawaPos Rabu 13 September 2017

Read More